PENGARUH PENDIDIKAN DALAM MEMBENTUK KARAKTER ANAK
Arinal Muna Widiastuti
2021116192
Abstrak
Di dunia
pendidikan yang seharusnya menjadi tauladan; selalu menjaga prinsi-prinsip
moral, ternyata juga tidak sepi dari sorotan negatif. Itu semua adalah pertanda, bahwa karakter bangsa
ini, oleh sementara orang, sudah dianggap mulai mengakhawatirkan. Lebih terasa
memprihatinkan lagi terjadinya kenakalan remaja di mana-mana, kasus-kasus
penggunaan narkoba, seks bebas, video porno, tawuran dan lain-lain. Semua itu
menjadikan betapa semakin sulitnya membangun karakter bangsa. Keadaan yang
sekilas digambarkan itu menjadikan banyak pihak, lebih-lebih para pendidik,
seperti yang berlangsung sekarang ini, merasa tergugah untuk melakukan
upaya-upaya mencari bentuk, bagaiman mengembalikan jati diri bangsa yang
dikenal sebagai berkarakter unggul tersebut.
Dalam mengembalikan kembali karakter melalui pendidikan pada anak harus
ada peran oleh orang tua, guru, juga lingkungan yang dapat membentuk karakter
sesuai dengan akhlak dan moral yang baik.
Kata kunci : Pendidikan, Karakter,
anak, orang tua
PENDAHULUAN
Menurut Hill (2002) dalam buku
Muslich menyatakan, pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan
perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja bersama sebagai
keluarga, masyarakat, dan bernegara membantu mereka untuk membuat keputusan
yang dapat dipertanggung jawabkan.
Pendidikan karakter memiliki tiga fungsi utama. Pertama, fungsi
pembentukan dan pengembangan potensi. Pendidikan karakter berfungsi membentuk
dan mengembangkan potensi didik agar berpikir baik, berhati baik dan
berperilaku baik sesuai dengan falsafah hidup pancasila. Kedua, fungsi
perbaikan dan penguatan. Pendidikan karakter berfungsi memperbaiki dan
memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah yang
ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi warga
negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera. Ketiga,
fungsi penyaringan. Pendidikan karakter
berfungsi memilih budaya bansa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain
yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang
bermartabat. Ketiga fungsi ini dilakukan melalui: (1) pengukuhan pancasila
sebagai falsafah dan ideologi negara, (2) pengukuhan nilai dan norma
konstitusional UU 45, (3) penguatan komitmen kebangsaan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI), (4) penguata nilai-nilai keberagaman sesuai dengan
konsepsi Bhineka Tunggal Ika, dan (5) penguatan keunggulan dan daya saing
bangsa atau berkelanjutan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
Indonesia dalam konteks global (Zubaedi , 2011:18).
Adapun kriteria pribadi yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga
negara yang baik bagi suatu masyarakt atau bangsa, secara umum adalah
nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan
bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks
pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai
luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina
kepribadian generasi muda.
Apakah pendidikan karakter merupakan hal baru dalam pendidikan di
Indonesia? Jawabanya tidak. Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara
menyatakan bahwa pendidikan merupakan upaya untuk menumbuhkan budi pekerti
(karakter), pikiran (intelect) dan tubuh anak. Ketiganya tidak boleh
dipisahkan,agar anak dapat tumbuh dengan sempurna. Jadi menurut Ki Hajar
Dewantara, pendidikan karakter merupakan bagian penting yang tidsk boleh
dipisahkan dalam isi pendidikan kita.
Secara faktual, data realistik menunjukan bahwa moralitas maupun
karakter bangsa saat ini telah runtuh. Runtuhnya moralitas karakter bangsa
tersebut telah mengundang sebagai musibah dan bencana di negeri ini. Musibah
dan bencana tersebut meluas pada ranah sosial-keagamaan, hukum, maupun politik.
Musibah sosial keagaman dapat diamati pada hilangnya etika kemanusiaan,
sehingga penghormatan terhadap jabatan diangap lebih penting dari pada
menghormati pribadi sebagai manusia; goncangan hukum dan politik dapat diamati
pada kasus korupsi yang terjadi di setiap meja instansi, praktik money
politik, skandal kasus Bank Century dan sebagainya; gelombang krisis
ekonomi dapat diamati pada paradok negeri ini, dimana terdapat kekayaan sumber daya alam yang luar biasa,
namun rakyatnya tetap miskin dan sengsara; “banjir bandang”menerjang dunia
pendidikan berupa tawuran pelajar antar sekolah, kecurangan ketika ujian,
penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas dan sebagainya.
Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menyalurkan bahwa sumber
dari musibah dan bencana yang telah meluluhlantarkan moralitas bangsa ini
adalah terabaikanya pendidikan karakter. Kemendiknas menyadarkan argumenya
tersebut pada sejarang bangsa-bangsa yang selalu mengedepankan karakter sebagai
solusi berbagai persoalan yang menerpanya. Sekadar contoh, revelitasasi bangsa
jerman dilakukan dengan pendidikan karakter dan spiritualitas setelah kekalahan
perang dengan prancis. Jepang menata ulang negerinya menghadapi urbanisasi,
disertai introduksi pendidikan moral.“Amerika pada akhir abad ini menghadapi
krisis global dengan mengintroduksikan kembali pendidikan karakter” (Amin
Abdullah, 2010).
Merujuk pada fakta-fakta sejarah
bangsa-bangsa tersebut Kemendiknas merencanakan gerakan nasional berupa
pendidikan karakter (2010/2025) melalui keputusan pemerintah Republik Indonesia
oleh Presiden Susilo Bamabang Yudhoyono pada tanggal 11 mei tahun 2010 tentang
gerakan nasional pendidikan karakter. Gerakan nasional pendidikan karakter
tersebut diharapkan mampu menjadi solusi atas rapuhnya gerakan bangsa selama
ini.
“Hal ini dimaksudkan sebagai sarana untuk
mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang berlandaskan empat pilar kebangsaan,
yaitu Pancasila, Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD
‘45), Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhineka Tunggal Ika”
(Darmiyati Zuvhdi, 2011: xv).
Dalam pelaksanaanya, khususnya melalui jalur pendidikan, pembangunan
karakter bangsa dilakukan melalui restruturisasi pendidikan yang telah berlangsung sejak lama di semua jenjang
pendidikan (SD/MI hingga SMA/MA/SMK) dengan nomenklatur baru yakni pendidikan
karakter. Tujuanya adalah untuk mewujudkan nilai-nilai luhur yang terkandung
dalam pancasila, baik dalam pola pikir, pola rasa maupun pola perilaku dalam
kehidupan sehari-hari.
KONSEP DASAR PENDIDIKAN KARAKTER
Pendidikan
karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk mewujudkan kebajikan, yaitu
kualitas kemanusian yang baik secara objektif , bukan hanya baik untuk individu
perseorangan, tetapi juga baik untuk
masyarakat secara keseluruhan.
pendidikan
karakter secara perinci memiliki tujuan, yakni: (1) mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif
peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai
karakter bangsa, (2) mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang
terpuji dan sejalan dengan nila-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang
religius, (3) menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta
didik sebagai generasi penerus bangs, (4) mengembangkan kemampuan
peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan,
(5) mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar
yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, dan dengan rasa
kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).
Pendidikan
karakter memiliki tiga fungsi utama. Pertama, fungsi membentuk dan
mengembangkan potensi. Pendidikan karakter berfungsi membentuk dan
mengembangkan potensipeserta didik agar berpikir baik, berhati baik, dan
berperilaku baik sesuai dengan falsafah hidup pancasila. Kedua, fungsi
perbaikan dan penguatan. Pendidikan karakter berfungsi memperbaiki dan
memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk
ikut berpartipasi dan tanggung jawab
dalam pengembangan potensi warga negara
dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera.
Ketiga, fungsi penyaringan. Pendidikan
karakter berfungsi memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa
lain yang tidak sesuai dengan nilai budaya dan karakter bangsa yang
bermartabat. Ketiga fungsi ini dilakukan melalui: (1) pengukuhan pancasila
sebagai falsafah dan ideologi negara, (2) pengukuhan nilai dan norma
konstitusional UUD 45, (3) penguatan komitmen kebangsaan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI), (4) penguatan nilai-nilai keberagaman sesuai dengan
konsepsi Bhineka Tunggal Ika, dan (5) penguatan keunggulan dan daya saing
bangsa untuk keberlanjutan kehidupan bermasyarakat, kebangsaan, dan bernegara
Indonesia dalam konteks global.
Pendidikan
karakter sebagai bagian dari upaya membangun karakter bangsa mendesak untuk
diterapkan. Pendidikan karakter menjadi vital dan tidak ada pilihan lagi untuk
mewujudkan Indonesia baru, yaitu Indonesia yang dapat menghadapi tangtangan
regional global. Diantara karakter yang perlu dibangun adalah karakter yang
berkemampuan dan kebiasaan memberikan yang terbaik (giving the best)
sebagai prestasi yang dijiwai oleh nilai-nilai kujujuran. Inti karakter adalah
kejujuran. Karakter dasar seseorang adalah mulia. Namun, dalam proses
perjalananya mengalami modifikasi atau metamorfosis, sehingga karakter dasarnya
dapat hilang. Contohnya, hewan singa memiliki karakter dasar yang galak, tetapi
karena mengalami proses modifikasi menjadi bagian dari pertunjukan sirkus, maka
singa kehilangan kegalakanya.
STRATEGI PENDIDIK KARAKTER ANAK MELALUI
DUNIA PENDIDIKAN
Hubungan Pendidikan Karakter Dengan Moral, Akhlak, dan
Agama
Pandangan ketiga yang sering
muncul dan terkesan paling dominan adalah bahwa pendidikan karakter adalah
pendidikan agama yang dituangkan dalam seluruh mata pelajaran. Namun demikian,
penafsiran pendidikan karakter sebagai pendidikan agama yang dituangkan dalam
berbagai mata pelajaran adalah sebuah pandangan yang sangat sempit.
Menurut Yunus Abidin dalam bukunya
Pembelajaran
Membaca Berbasis Pendidikan Karakter bahwa berkembangnya paradigma ini didasarkan atas asumsi bahwa pendidikan
karakter adalah pendidikan tentang akhlak mulia. Berbicara tentang akhlak mulia
tentu saja berbicara tentang agama. Oleh karenanya, pendidikan karakter cukup
dilakukan melalui pendidikan agama bukan pendidikan yang berlandaskan agama.
Dengan diterapkan pendidikan agama dalam
membentuk karakter anak, itu berarti sudah diterapkan pula karakter pendidikan
dalam diri anak. Sebagai orang tua harus bisa menumbuhkan karakter yang baik
pada anak se-dini mungkin, agar anak bisa terbiasa melakukan hal-hal yang baik.
Karena orangtua tombak dari suatu pendidikan yang dapat mengajarkan hal-hal
yang menjadi tujuan utama di dalam keluarga itu.
Karakter itu berkaitan dengan
kekuatan moral, berkonotasi positif , bukan netral. Jadi, orang berkarakter adalah orang yang mempunyai kualitas moral
(tertentu) positif. Dengan demikian, pendidikan adalah membangun karakter, yang
secara implisit mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang
didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau yang baik, bukan
yang negatif atau yang buruk (Masnur Muslich 2011: 71).
Pendidikan karakter secara
esensial, yaitu untuk mengembangkan kecerdasan moral (building moral intelligence)
atau mengembangkan kemampuan moral anak-anak. Cara menumbuhkan karakter yang
baik dalam diri anak didik adalah kemampuan memahami hal yang benar dan yang
salah, artinya memiliki keyakinan etika yang kuat dan bertindak berdasarkan
keyakinan tersebut, sehingga orang bersikap benar dan terhormat. Kecerdasan
yang sangat penting ini mencakup karakter-karakter utama, seperti kemampuan
untuk memahami penderitaan orang lain dan bertindak jahat, mampu mengendalikan
dorongan dan menunda pemuasan, mendengarkan
dari beragai pihak sebelum
memberikan penilain, menerima dan menghargai perbedaan, bisa memahami pilihan
yang tidak etis, dapat berempati, memperjuangkan keadlilan, dan menunjukan
kasih sayang dan rasa hormat terhadap orang lain. Ini merupakan sifat-sifat
utama yang akan membentuk anak menjadi baik hati, berkarakter kuat, dan warga
negara ynag baik. Inilah yang paling diharapkan dari anak-anak kita.
Meski penyebab merosotnya
moralitas sangatlah kompleks, terhadap fakta yang tidak dapat dipungkiri. Lingkungan
moral tempat anak-anak dibesarkan saat ini sangat meracuni kecerdasan moral
mereka. Mengapa demikian? Pertama, sejumlah faktor kritis yang membentuk
karakter bermoral secara perlahan mulai runtuh, yaitu : pengawasan orang tua,
teladan perilaku bermoral, pendidikan spritual dan agama, hubungan akrab dengan
orang dewasa, sekolah khusus, norma-norma nasional yang jelas, dukungan
masyarakat, stabilitas, dan pola asuh yang benar. Kedua, anak-anak
secara terus-menerus menerima masukan dari luar yang bertentangan dengan
norma-norma yang tengahkita tumbuhkan. Kedua faktor ini berperan terhadap
kerusakan moral anak-anak bersamaan dengan hilangnya kepolosan mereka.
Diakui bahwa pengaruh buruk
secara nyata begitu melekat dalam budaya kita, sehingga hampir tidak mungkin
menghindarkan anak-anak dari pengaruh tersebut. Kondisi inilah yang menjadi
yang menjadi sebab mengapa membangun kecerdasan moral sangat penting dilakukan
agar suara hati anak-anak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang salah,
sehingga mereka dapat menangkis pengaruh buruk dari luar. Kecerdasan moral
menjadi otot kuat yang diperlukan untuk melawan tekanan buruk dan membekali
anak kemampuan bertindak benar tanpa bantuan orang lain.
Zubaedi (2011) mengatakan bahwa kecerdasan moral
terbangun dari beberapa kabjikan utama yang membantu anak menghadapi tantangan
dan tekanan etika yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan kelak. Kebajikan
utama tersebutlah yang akan melindunginya agar tetap berada di jalan yang benar
dan membantunya agar selalu bermoral dalam bertindak. Beriktu tujuh kebajikan
utama yang akan menjaga sikap baik seumur hidup pada anak.
1.
Empati
Empati adalah
memahami dan mersakan kekhawtiran orang lain.kebajiakan ini membuat anak
menjadi peka terhadap kebutuhan dan persaan orang lain, mendorongnya menolong
orang yang kesusahan atau kesakitan, serta menuntut anak memperlakukan orang
dengan kasih sayang.
2.
Hati Nurani
Hati nurani dapat
mengetahui dan menerapkan cara bertindak yang benar. Hati Nurani yang kuat
adalah suara hati yang membantu kita membedakanhal yang benar dan hal yang
salah yang merupakan landasan yang kuat bagi kehidupan kita yang baik,
kehidupan kemasyarakatan yang baik, serta perilaku beretika.
3.
Kontrol Diri
Kontrol diri adalah
mengendalikan pikiran dan tindakan agar dapat menahan dorongan dari dalam
maupun dari luar sehingga dapat bertindak dengan benar. Kontrol diri dapat
membantu anak mengendalkan perilaku mereka, sehingga mereka dapat bertindak
benar berdasarkan pikiran dan hati nurani mereka.
4.
Rasa Hormat
Rasa hormat
adalah menghargai orang lain dengan berperilaku baik dan sopan. Jika kita
memperlakukan orang lain sebagaimana kita mengharapkan orang lain memperlakukan
kita, dunia ini akan menjadi lebih bermoral. Menumbuhkan rasa hormat juga perlu
untuk membentuk warga negara yang baik dan berhubungan interpersonal yang
positif, karena rasa hormat ini menuntut agar semua orang sama-sama dihargai
dan dihormati.
5.
Kebaikan hati
Kebaikan hati
yaitu menujukan kepedulian terhadap kesejahteraan dan perasaan orang lain. Satu
hal yang pasti, jika kita tidak berbuat apa-apa, kita tidak bisa berharap
anak-anak akan bersikap simpatik dan berbelas kasih di dunia yang penuh
pesan-pesan buruk dan pesimis. Bahkan kita harus secara sadar berusaha keras
mengganti pesan-pesan negatif ini denagn cara yang paling efektif, yaitu
menumbuhkan kebajikan yang berupa kebaikan hati.
6.
Toleransi
Toleransi yaitu
menghormati martabat dan hak semua orang meskipun keyakinan dan perilaku mereka
berbeda dengan kita. Anak yang toleransi bisa menghargai orang lain meskipun
berbeda pandangan dan keyakinan. Dengan kapasitas seperti itu, anak-anak
tersebut tidak dapat menoleransi kekejaman, kefanatikan, dan rasialisme. Karena
itu, tidak mengherankan jika mereka tumbuh menjadi manusia dewasa yang berusaha
menjadikan dunia ini sebagai tempat yang manusiawi.
7.
Keadilan
Keadilan berwujud
berpikir terbuka serta bertindak adil dan benar. Anak-anak yang mempunyai sifat
ini dapat mematuhi aturan, bergiliran, berbagi, dan mendengarkan semua pihak
secara terbuka sebelum memberi penilaian. Karena itulah mereka memegang etika.
Kebajikan ini meningkatkan kepekaan anak terhadap persoalan moralitas, mereka
bersemangat membela orang-orang yang di perlukan tidak adil dan menuntut agar
orang-orang tersebut di perlakukan setara.
Pendidikan karakter juga bukan hanya sekedar
pendidikan moral dan nilai. Pendidikan karakter mempunyai makna lebih tinggi
dari pendidikan moral, karena bukan sekedar mengajarkan mana yang baik dan mana
yang salah. Lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation)
tentang hal yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (dominan kognitif)
tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan (dominan afektif ) nilai yang
baik dan biasa melakukanya (dominan perilaku). Jadi, pendidikan karakter
terkait erat kaitanya dengan kebiasaan yang terus-menerus di praktikan atau
dilakukan (Kemendiknas, 2010a).
Bertemali dengan pendidikan nilai, pendidikan
karakter mempercayai adanya keberadaan moral absolute, yakni bahwa moral
absolute perlu diajarkan kepada generasi muda agar mereka paham betul
mana yang baik dan benar. Karena sesungguhnya terdapat nilai moral universal
yang bersifat absolute (bukan
bersifat relatif) yang bersumber dari agam-agama di dunia, yang disebut sebagai
the golden rule. Oleh karenanya menyejajarkan pendidikan karakter dan
pendidikan nilai ada sesuatu yang keliru. Pendidikan karakter lebih dari
sekedar pendidikan agama, moral, dan nilai (Kemendiknas, 2010a).
Prinsip-Prinsip Penyusunan Materi Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter harus dimulai
sejak lahir bahkan masih dalam kandungan melalui belaian kasih sayang ibu dan
bapaknya. Pada masa bayi, penanaman pendidikan karakter dalam keluarga sangat
penting. Nilai dan norma ditanamkan melalui contoh perilaku semua anggota
keluarga. Kemudian memasuki empat tahun, anak mulai berkenalan dengan
lingkungan bairu, yaitu lingkungan taman kanak-kanak atau pendidikan anak usia
dini. Pada tahap ini, penanaman pendidikan karakter sangat penting. Para ahli
psikologi menyebutkan sebagai masa emas (golden emas), karena usia ini
sangat menentukan kemampuan memngembangkan potensi anak.
Sejalan dengan tumbuh kembangnya anak, pada
lingkungan sekolah, penanaman pendidikan kararakter lebih kompleks.
Anak-anak dituntut belajar berperilaku dalam
menghayati, mengamalkan nilai dan norma, dan akhlak mulia. Pembinaan karakter
yang mudah dilakukan ketika anak-anak masih duduk di bangku SD. Itulah sebabnya
pemerintah memprioritaskan pendidikan karakter di SD, bukan berarti pada jenjang
lainya tidak mendapat perhatian, namun porsinya saja yang berbeda. Penanaman
dan pembiasaan dalam menanamkan nilai-nilai luhur di lingkungan sekolah harus
terintegrasi dalam proses pembelajaranpada setiap mata pelajaran. Pembiasaan
dan menciptakan lingkungan yang kondusif
serta menjadi figur bagi peserta didik adalah pekerjaan yang tidak
mudah.
Zubaedi
(2011) mengatakan bahwa Prinsip yang digunakan dalam
pengembangan pendidikan karakte: 1) berkelanjutan: mengandung makna bahwa
proses yang pengembangan nilai-nilai karakter merupakan proses yang tiada
berhenti, dimulai dari awal peserta didik masuk sampai selesai dari suatu
satuan pendidikan bahkan sampai terjun kemasyarakat; (2) melalui semua mata
pelajaran pengembangan diri dan budaya
sekolah , serta muatan lokal ; (3) nilai tidak diajarkan tetapi dikembangkan
dan dilaksanakan. Satu hal yang selalu diingat bahwa suatu aktivitas belajar
dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan ranah kognitif, afektif, dan
psikomotorik; dan (4) proses pendidikan
dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan. Guru harus merencanakan
kegiatan belajar yang menyebabkan peserta didik aktif merumuskan pertanyaan,
mencari sumber informasi, dan mengumpulkan informasi dari sumber, mengolah
informasi yang sudah dimiliki, dan menumbuhkan nilai-nilai budaya dan karakter
pada diri mereka melalui berbagai kegiatan belajar yang terjadi di kelas,
sekolah, dan tugas-tugas di luar sekolah.
Internalisasi Pendidikan Karakter Usia Dini
Menurut Irwanto (2002) dalam buku
wibowo, masa-masa dominan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak itu
di dalam keluarga. Fase tersebut mulai dari periode kanak-kanak akhir (late
childhood), hingga periode dewasa awal (early adulthood). Pada fase
ini, anak memiliki kecenderungan untuk mengikuti atau meniru tata-nialai dan
prilaku di sekitarnya, pengambilan pola prilaku dan nilai-nilai baru, serta
tumbuhnya idialisme untuk pemantapan identitas diri. Jika fase itu dilakukan
proses penanaman nilai-nilai moralitas yang terangkum dalam pendidikan karakter
secara sempurna, maka akan menjadi pondasi dasar sekaligus warna kepribadian
anak ketika dewasa kelak.
Menurut Edi Waluyo (2007) dalam buku wibowo,
pendidikan karakter terhadap anak hendaknya menjadikan mereka terbiasa untuk
berperilaku baik; sehingga ketika seorang anak tidak melakukan kebiasaan baik
itu, yang berasangkutann akan merasa bersalah. Dengan demikian, kebiasaan baik
sudah menjadi semacam insting, yang secara otomatis akan membuat seorang anak
merasa kuarng nyaman bila tidak melakuakan kebiasaan baik itu. Adapun strategi
implememtasi pendidikan karakter yang ditawarkan oleh Edi Waluyo diantaaranya:
1.
Ciptakan suasana
penuh denagn kasih sayang, mau menerima anak sebagaimana adanya, dan menghargai
potensi yang dimiliki mereka.
2.
Gunakan metode
pembiasaan. Misalnya, kebiasaan menolong teman yang kesusahan, menjenguk orang
sakit, membuang sampah pada tempatnya, dan sebagainya. Pembiasan sebagaimana
telah diuraikan, sekaligus menjadi ajang pembelajaran bagi anak dan berlangsung
sampai mereka masuk SD. Setelah itu, berbagai sumber belajar, misalnya
lingkungan atau pembiasaan baca buku, akan ikut membentuk karakter anak selain
contoh-contoh dari guru dan orang tuanya.
3.
Membangun
karakter pada anak hendaknya menjadikan mereka terbiasa untuk berperilaku baik.
Jika anak sudah terbiasa melakukan kebiasaan baik, maka ketika mereka tidak
melakukan kebiasaan itu akan timbul perasaan bersalah; dan tentu saja tidak
akan mengulangi kelalaian itu.
Menurut Ratna
Megawangi (2010) dalam buku wibowo, pendidikan karakter terhadap anak,
sebaiknya disesuaikan dengan fase usianya, yaitu:
1.
Fase usia 0-3
tahun. Pada fase ini, peranan orang tua harus lebih besar karena landasan moral
baru dibentuk pada umur ini. Selain itu, cinta dan kasih sayang dari orang tua
sangat dibutuhkan oleh anak sepanjang fase ini.
2.
Fase 2-3 tahun.
Pada fase ini anak sebaiknya sudah diperkenalkan pada sopan-santun, serta
perbuatan baik dan buruk. Pada umumnya anak pada usia ini sudah mencoba-coba
melanggar aturan dan agak sulit diatur, sehingga memerlukan kesabaran orang
tua.
3.
Fase 0 (usia 4
tahun). Pada fase ini anak mengalami fase egosentris, di mana ia enang
melanggar aturan, memarkan diri, dan memaksakan keinginan. Namun anak mudah
didorong untuk berbuat baik, karena ia mengharapkan hadiah ( pujian), dan
menghindari hukuman.contoh pendidikan karakter pada fase ini misalnya
memberikan pujian agar anak berperilaku baik dan anda sebaiknya memberikan
arahan yang jelas.
4.
Fase 1 (umur
4,5-6 tahun). Pada fase ini anak-anak lebih penurut dan bisa diajak kerja
sama,agar terhindar dari hukuman orang tua. Anak sudah dapat menerima pandangan
orang lain, teruma orang dewasa; bisa menghormati otoritas orang tua/guru;
menganggap orang dewasa lebih tahu; senang mengadu teman-temanya yang nakal.
Perlu diperhatikan jika pada fase ini perilaku anak masih seperti fase 0,
maka itu artinya karakter anak yang
bersangkutan tidak optimal. Pada fase 1 ini anak-anak juga sangat mempercayai
orang tua/guru, sehingga penekanan penting perilaku baik dan sopan akan sangat
efektif. Namun pendidikan karakter pada fase ini harus memberi peluang pada
anak untuk memahami alasan-alasanya.
5.
Fase 2 (6,5-8
tahun). Pada fase ini, anak merasa memiliki hak sebagaimana orang dewasa; tidak
lagi berpikir bahwa orang dewasa bisa memerintah anak-anak; mempunyai potensi
bertindak kasar akibat menurunya otoritas orang tua/guru dalam pikiran mereka;
mempunya konsep keadilan yang kaku, yaitu balas-membalas.
Masnur Muslich (2011:81) menyatakan dalam bukunya Pendidikan
Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional bahwa "Sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak
atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age),
karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan dalam mengembangkan
potensinya. Hasil penelitian menunjukan bahwa sekitar 50% variabilitas
kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun peningkatan
30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau
akhir dawarsa kedua."
PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER
Mendiknas
mengingatnya pentingnya pengembangan karakter pribadi sebagai basis untuk
mencapai sukses. Meski dianggap penting dan sering didengarkan, sampai sekarang
tidak wujud nyata berupa kebijakan dalam dunia pendidikan berkaitan dengan
pendidikan karakter.
Thomas lickona,
seorang profesi pendidikan dari Cortland University, mengungkapkan bahwa ada
sepuluh tanda-tanda zaman yang harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini
sudah ada, berarti sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda
yang dimaksud adalah (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, (2)
penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk, (3) pengaruh peer-group yang
kuat dalam tindak kekerasan, (4) menikatnya perilaku merusak diri, seperti
penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas, (5) semakin kaburnya pedoman moral
baik dan buruk, (6) menurunya etos kerja, (7) semakin rendahnya rasa hormat
kepada orang tua dan guru, (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga
negara, (9) membudayanya ketidakjujuran, dan (10) adanya rasa saling curiga dan
kebencian di antara sesama. Jika dicermati, ternyata kesepuluh tanda zaman
tersebut sudah ada di Indonesia. Selain sepuluh tanda-tanda zaman tersebut,
masalah lain yang tengah dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah sistem pendidikan
dini yang ada sekarang ini terlalu berorientasi pada pengembangan otak kiri
(kognitif) dan kurang memperhatikan pengembangan otak kanan (afektif, empati
dan rasa). Pengembangan karakter lebih berkaitan dengan optimalisasi fungsi
otak kanan.
Pada sisi lain,
pembentukan karakter harus dilakukan secara sistematis dan ksinambunganyang
melibatkan aspek “knowledge, feeling, loving, dan action”. Sebab, pada
dasarnya, anak yang berkarakter rendah adalah anak yang tingkat perkembangan
emosi-sosialnya rendah sehingga anak beresiko atau berpotensi besar mengalami
kesulitan dalam belajar, berinteraksi sosial dan tidak mampu mengontrol diri. Mengingat
pentingnya penanaman karakter di usia dini dan mengingat usia prasekolah
merupakan masa persiapan untuk sekolah yang sesungguhnya maka penanaman
karakter yang baik di usia pra sekolah merupakan hal yang sangat penting untuk
dilakukan.
Karakter
dipengaruhi oleh hereditas. Perilaku seorang anak sering kali tidak jauh dari
perilaku ayah dan ibunya. Dalam bahasa kwa dikenal istilah “ Kacang ora ninggal
lanjaran” (Pohon kacang panjang tidak pernah meninggalkan kayu atau bambu
tempatnya melilit dan menjalar). Kecuali itu lingkungan, baik lingkungan sosial
maupun lingkungan alam ikut membentuk karakter.
Pendidikan karakter telah menjadi sebuah
pergerakan pendidikan yang mendukung pengembngan sosial, pengembangan
emosional, dan pengembangan etika para siswa. Merupakan suatu upaya proaktif
yang dilakukan baik oleh sekolah maupun pemerintah untuk membantu siswa
mengembangkan inti pokok dari nilai-nilai etik dan nilai-nilai kinerja, seperti
kepedulian, kejujuran, kerajinan, fairness, keuletan dan ketabahan (fortitude),
tanggung jawab, menghargai diri sendiri dan orang lain (Muchlas Samani, 2011:42)
.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN
PENDIDIKAN KARAKTER
Dalam tinjauan
ilmu akhlak diungkapkan bahwa segala tindakan dan perbuatan manusia yang
memiliki corak berbeda antara satu dan lainnya, pada dasarnya merupakan akibat
adanya pengaruh dari dalam diri manusia (insting) dan motivasi yang disuplai
dari luar dirinya seperti milieu, pendidikan, dan aspek warotsah.
1.
Insting (naluri)
Merupakan seperangkat tabiat
yang dibawa manusia sejak lahir. Para psikolog menjelaskan bahwa insting
(naluri) berfungsi sebagai motivator penggertak yang mendorong lahirbya
tibfgkah laku antara lai:
a.
Naluri makan (nutritive
insting). Begitu manusia lahir telah membawa suatu hasrat makan tanpa
didorong oleh orang lain. Buktinya begitu bayi lahir ia dapat mencari tetek
ibunya dan menghisap air susu tanpa diajari lagi.
b.
Naluri berjodoh (seksual
instinct), yang ditandai dengan laki-laki ingin berjodoh dengan wanita dan
wanita ingin dengan laki-laki.
c.
Naluri
keibubapakan (peternal instinct), yang ditandai dengan tabiat kecintaan
orang tua kepada anaknya dan sebaliknya kecintaan anak kepada orang tuanya.
d.
Naluri berjuang
(combative instinct), yang ditandai dengan tabiat manusia yang cenderung
mempertahankan diri dari gangguan dan tantangan.
e.
Naluri ber Tuhan,
yang ditandai dengan tabiat manusia mencari dan merindukan Penciptanya yang
mengatur dan memberikan rahmat kepadanya.
2.
Adat / kebiasaan
Adat/kebiasaan adalah setiap
tindakan dan perbuatan sesorang yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi
kebiasaan, seperti berpakaian, makan, tidur, dan olahraga. Anak harus
dibiasakan hidup dengan akhlak dan moral yang baik sejak kecil. Oleh karena
itu, orang tua, guru harus mengenalkan hal-hal yang baik pada anak agar anak
lebih mengenal hal-hal yang baik dari pada hal-hal yang buruk.
3.
Keturunan
Secara langsung atau tidak
langsung keturunan sangat memengaruhi pembentukan karakter atau sikap
seseorang. Keturunan sangat berpengaruh
pada keberhasilan dalam membentuk karakter anak. Karena dengan keturunan anak
akan lebih cepat menangkap hal-hal yang diajarkan oleh keturunan itu. Sebab,
keturunan yang paling dekat dengan sianak.
4.
Lingkungan
(milieu)
Salah satu aspek yang turut
memberikan saham dalam terbentuknya corak sikap dan tingkah laku seseorang
adalah faktor milieu (lingkungan) di
mana seseorang berada. Lingkunga mempunya pengaruh besar setelah keluarga.
Karena lingkungan yang akan membawa anak pada hal yang baik dan yang buruk.
Orang tua harus jeli dalam memilih lingkungan untuk anak. Dan orang tua harus
bisa membentengi anak agar anak tidak terpengaruh pada lingkunganya.
PENUTUP
Karakter pendidikan sangat berpengaruh
terhadap tumbuh kembang anak. Jika sejak dini sudah di kenalkan dengan dunia
pendidikan sesuai moral dan akhlak maka anak tersebut bisa membedakan mana yang
baik dan mana yang buruk tanpa ada yang menyuruh. Sebaiknya, keluarga dan guru
harus bisa mendidik anak agar berkarakter baik. Karena keluarga, lingkungan,
sekolah mempunyai pengaruh besar dalam membentuk karakter anak.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Yunus. 2012. Pembelajaran
Membaca Berbasis Pendidikan Karakter. Bandung: PT Refika Aditama.
Kesuma, Dharma, dkk. 2011. Pendidikan
Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya.
Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan
Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Samami, muchlis dan Hariyanto. 2011. Konsep
dan Model Pendidikan Krakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Suprayogo, Imam. 2013. Pengembangan
Pendidikan Karakter. Malang: UIN Maliki Press.
Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran
Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Wiyani, Novan Ardy. 2013. Bina Karakter
Anak Usia Dini. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.
Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan
Karakter. Bengkulu: Kencana.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusartikel yang bermanfaat. syukron
BalasHapusTerima kasih mba... Semoga bisa bermanfaat mba ya..
HapusArtikel ini sangat bermanfaat utk pengembangan karakter anak bangsa saat ini
BalasHapusTerima kasih mba.. Semoga tidak hanya bermanfaat untuk kita aja tetapi untuk kedepannya lagi mba ya... ๐
HapusSemoga bermanfaat, terimakasih :)
BalasHapusSemoga dapat bermanfaat untuk pembaca yan.. ๐
Hapussemoga bermanfaat, terima kasih ๐
BalasHapusTerima kasih... Semoga dapat bermanfaat untuk suatu hari nanti ya...
HapusBarakallah, sangat bermanfaat. Syukron:)
BalasHapusSemoga dapat bermanfaat tidak hanya untuk pembaca saja tetapi bagi penulis juga... Syukron katsiron..
HapusArtikelnya sangat bermanfaat. Terimakasih
BalasHapuskesimpulanya tidak secara keseluruhan di bhs tetapi sudah menjadi gambaran dari artikel tersebut
BalasHapuskesimpulanya tidak secara keseluruhan di bhs tetapi sudah menjadi gambaran dari artikel tersebut
BalasHapusTerima kasih... Kakak.. Nanti akan saya perbaiki lagi agar lebih baik lagi...
HapusSangat bermanfaat artikelnya ๐๐
BalasHapusSyukron katsiron... Semoga dapat bermanfaat ya kakak...
Hapusartikelnya bagus, semoga bermanfaat aamiin. :)
BalasHapusTerima kasih kakak.. Semoga dapat bermanfaat untuk kedepannya kakak..
HapusArtikelnya sangat bagus banget
BalasHapusSemoga dapat bermanfaat kakak... Aamiin..
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusartikel nya sangat bagus dan termotivasi. sukses yaa untuk karya tulisan selanjunya....
BalasHapusTerima kasih kakak... Semoga kita lebih tahu bagaimana kita dapat menumbuhkan karakter anak ya kakak
Hapus.trimakasih, artikelnya bagus :)
BalasHapusartikelnya bagus, bisa menjadi bahan bacaan. semoga bisa bermanfaat bagi pembaca yang lainnya :)
BalasHapusHehehe... Aamiin... Semoga dapat lebih mengerti lagi ya kakak.. Bagaimana kita menerapkan karakter pada anak ya kakak
Hapusartikelnya bagus dan menarik, namun perlu di perhatikan antara kutipan langsung dan tidak langsung. misalnya saja di blog tersebut menurut irwanto (2002) dalam buku wibowo..., seharusnya itu penulisannya menurut wibowo (tahun...) mengutip pendapat irwanto menjelaskan bahwa....
BalasHapusmungkin itu saja. semoga bermanfaat. dan aku tunggu hasil karya selanjutnya. good job
Terima kasih atas kritikannya kakak.. Nnt saya akan memperbaiki lagi kakak.. Sekali lagi terima kasih kritikanya ya kakak..
HapusArtikelnya bagus, sangat membantu.. semoga bermanfaat bagi yang lain... Good luck๐๐
BalasHapuspenulisannya sudah sesuai dengan sistematika penulisan artikel jurnal ilmiah , isinya sudah sesuai..
BalasHapusSemoga bermanfaat.
Aamiin๐
Artikelnya bagus sekali, bisa menambah wawasan dalam membentuk karakter anak. Hanya sedikit saran dalam artikel tersebut itu di kutipan yang innote setelah tahun perlu ditambahi halaman bukunya. Terima kasih.
BalasHapusArtikelnya bagus sekali, bisa menambah wawasan dalam membentuk karakter anak. Hanya sedikit saran dalam artikel tersebut itu di kutipan yang innote setelah tahun perlu ditambahi halaman bukunya. Terima kasih.
BalasHapusArtikelnya bagus sekali, bisa menambah wawasan dalam membentuk karakter anak. Hanya sedikit saran dalam artikel tersebut itu di kutipan yang innote setelah tahun perlu ditambahi halaman bukunya. Terima kasih.
BalasHapusBagus artikelnya mb. Apalagi di Zaman sekarang, anak2nya banyak yang mengalami kemerosotan karakter... Pendidikan memang Solusi yang tepat dalam membentuk karakter anak bangsa yang cerdas
BalasHapusArtikel yang luar biasa. Semakin tahu tentang pendidikan karakter. Saya tunggu artikel selanjutnya. Terimaksih sangat bermanfaat
BalasHapusArtikel yang luar biasa. Semakin tahu tentang pendidikan karakter. Saya tunggu artikel selanjutnya. Terimaksih sangat bermanfaat
BalasHapusArtikelnya bagus sekali dan isinya juga sudah sesuai dengan artikelnya.semoga bermanfaat bagi pembaca yang lain
BalasHapusIsi artikel sangat bagus, cara penulisan sistematika juga sesuai. semoga bisa bermanfaat bagi semua orang.
BalasHapusBagus mba artikelnya, tapi itu simpulannya kalo lebih rinci lebih bagus, soale yg itu masih terlalu umum
BalasHapusartikelnya sangat menarik & bgus..smg brmanfaat bgi kita yg mmbca dn orang lain....dtnggu krya slnjutnya tman...
BalasHapus